Rabu, 23 Mei 2018

Esensi Tauhid Dalam Islam

source; https://bit.ly/2IUN11h

Esensi tauhid dalamsyariat islam:
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya. Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Islam adalah agama yang memiliki konsep Ketuhanan yang paling benar, di mana tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Karena itu, Tauhid adalah meng -Esa- kan Tuhan, sebagai bentuk kesaksian bahwa Allah “Ahad” Yang Maha Tunggal menghidupkan manusia agar mereka hanya mengabdi kepada-Nya. Allah Yang Maha Memberi, satu-satunya tempat meminta pertolongan. Karena itu, meyakini ada kekuatan lain di samping kekuatan Allah tergolong kemusyrikan.
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah, membutuhkan bantuan pertolongan Allah dalam kehidupan ini. Tetapi di antaranya, ada orang-orang yang menempuh kesesatan meminta  melalui perantara, misalnya; mendatangi paranormal (tukang ramal atau dukun santet), meminta berkah dan rezeki pada kuburan keramat, pohon angker  atau percaya pada kekuatan batu mustika, membakar dupa di tempat tertentu, atau memasang jimat untuk kekuatan dan perlindungan, serta semacamnya.
Semua itu, apabila diyakini memang dapat membantu sekalipun melunturkan keyakinan  kepada Allah Zat Yang Maha Menghidupkan manusia. Biasanya hal itu lebih cepat menolong keinginan-keinginan dan kepuasan seseorang; seperti mencelakakan orang lain dengan teluh atau santet, meminta  limpahan rezeki, ketemu jodoh, panjang umur, terpelihara dan mendapatkan keselamatan hidup di dunia. Padahal, yang ditempati meminta itu bukanlah Yang Maha Menghidupkan. Adapun setiap makhluk hidup semuanya pasti akan mati  dan sembahan berupa benda-benda mati suatu saat hancur, jadi tidak semestinya orang berharap sepenuhnya kepada makhluk diyakini akan memberi sarana  kehidupan kekal dengan segala bentuk kebutuhan  manusia. Justru sebenarnya yang ditempati meminta itu tidak dapat menolong dirinya sendiri dari teguran (turunnya azab) Allah di dunia dan lebih-lebih hukuman dari (balasan azab) Allah di akhirat kelak.
            Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.
Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UIN Sunan Kalijaga Meraih Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2015.

UIN Sunan Kalijaga Meraih Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2015. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta baru saja menerima sertifikat sistem man...