source; https://bit.ly/2IUN11h
Esensi tauhid dalamsyariat
islam:
Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari
fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya
menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:
“Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala
sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru
menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Secara istilah syar’i, makna tauhid
adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan
segala kekhususannya. Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak
hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para
Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang
yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Islam adalah agama yang memiliki konsep
Ketuhanan yang paling benar, di mana tidak ada yang berhak disembah selain Allah.
Karena itu, Tauhid adalah meng -Esa- kan Tuhan, sebagai bentuk kesaksian bahwa
Allah “Ahad”
Yang Maha Tunggal menghidupkan manusia agar mereka hanya mengabdi kepada-Nya.
Allah Yang Maha Memberi, satu-satunya tempat meminta pertolongan. Karena itu, meyakini
ada kekuatan lain di samping kekuatan Allah tergolong kemusyrikan.
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah,
membutuhkan bantuan pertolongan Allah dalam kehidupan ini. Tetapi di antaranya,
ada orang-orang yang menempuh kesesatan meminta melalui perantara,
misalnya; mendatangi paranormal (tukang ramal atau dukun santet), meminta
berkah dan rezeki pada kuburan keramat, pohon angker atau percaya pada
kekuatan batu mustika, membakar dupa di tempat tertentu, atau memasang jimat
untuk kekuatan dan perlindungan, serta semacamnya.
Semua itu, apabila diyakini memang dapat
membantu sekalipun melunturkan keyakinan kepada Allah Zat Yang Maha
Menghidupkan manusia. Biasanya hal itu lebih cepat menolong keinginan-keinginan
dan kepuasan seseorang; seperti mencelakakan orang lain dengan teluh atau
santet, meminta limpahan rezeki, ketemu jodoh, panjang umur, terpelihara
dan mendapatkan keselamatan hidup di dunia. Padahal, yang ditempati meminta itu
bukanlah Yang Maha Menghidupkan. Adapun setiap makhluk hidup semuanya pasti
akan mati dan sembahan berupa benda-benda mati suatu saat hancur, jadi
tidak semestinya orang berharap sepenuhnya kepada makhluk diyakini akan memberi
sarana kehidupan kekal dengan segala bentuk kebutuhan manusia. Justru
sebenarnya yang ditempati meminta itu tidak dapat menolong dirinya sendiri dari
teguran (turunnya azab) Allah di dunia dan lebih-lebih hukuman dari (balasan
azab) Allah di akhirat kelak.
Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil
tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka
menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.
Tauhid Rububiyyah adalah
mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh
Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan
Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. Tauhid
Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk
peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Tauhid
Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan
Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat
Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan
Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar